BBRMP Sulbar Bersama Dinas TPHP Provinsi Tinjau Lokasi Gagal Panen di Polewali Mandar
Polewali Mandar-BBRMP Sulawesi Barat bersama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi melakukan kunjungan lapangan ke lokasi yang mengalami gagal panen di Kabupaten Polewali Mandar. Kunjungan dilakukan sebagai bentuk respons cepat terhadap laporan kerugian petani yang terjadi di Desa Buku, Kecamatan Mapilli.
Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan, gagal panen terjadi pada lahan seluas 2,31 ha milik Kelompok Tani (KT) Sipatuo. Tim melakukan observasi langsung serta diskusi bersama petani guna mengurai penyebab utama permasalahan.
Dari hasil kegiatan ini ditemukan beberapa faktor krusial yang saling berkaitan. Salah satu penyebab utama adalah keterlambatan sebagian petani dalam pengolahan lahan sehingga waktu tanam tidak berlangsung serempak. Dampaknya, ketika tanaman memasuki fase Generatif yang membutuhkan pasokan air optimal, pintu air justru dalam kondisi tertutup karena wilayah sekitar telah memasuki masa panen.
Selain itu, keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan), khususnya traktor, turut memengaruhi percepatan dan penyeragaman olah tanah. Ketersediaan alsintan dinilai penting untuk memastikan jadwal tanam lebih terkoordinasi dan tidak bergantung pada kesiapan individu.
Pola tanam Desa Buku yang masih mengikuti sistem tanam wilayah Luyo–Campalagian juga menjadi faktor pendukung terjadinya kendala. Ketergantungan terhadap jadwal tanam wilayah lain membuat ketersediaan air di Desa Buku sangat dipengaruhi kondisi eksternal Ketika terjadi keterlambatan turun sawah, dampaknya langsung dirasakan pada ketersediaan air irigasi.
Di samping itu, belum optimalnya pemisahan saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier menyebabkan pengaturan distribusi air kurang efektif. Tingginya ketergantungan satu lokasi terhadap sisa air dari lokasi lain memperbesar risiko gagal panen ketika pasokan air di hulu berkurang.
Melalui kunjungan ini, diharapkan dapat dirumuskan langkah tindak lanjut, baik dalam penataan jadwal tanam, optimalisasi alsintan, maupun pembenahan sistem irigasi. Sinergi antara pemerintah daerah, provinsi, dan petani menjadi kunci dalam mencegah kejadian serupa terulang pada musim tanam berikutnya.(MR)