Kementan Lakukan Peninjauan Pembibitan Kakao di Pamboang untuk Dukung Peremajaan Kakao Nasional
MAJENE– Dalam upaya memperkuat posisi Provinsi Sulawesi Barat sebagai salah satu sentra kakao nasional serta mendukung program peremajaan tanaman kakao tahun 2026, Tenaga Ahli Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Prof. Muhammad Arsyad, melaksanakan kunjungan kerja lapangan ke lokasi pembibitan kakao di Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene.
Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan penyediaan benih unggul kakao serta penerapan standar teknis budidaya yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) sebelum bibit disalurkan kepada petani. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas kakao nasional, khususnya di wilayah Sulawesi Barat yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kakao potensial di Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Muhammad Arsyad didampingi oleh tim BBRMP Sulawesi Barat, Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Kabupaten Majene, serta para penyuluh pertanian lapangan. Peninjauan difokuskan pada verifikasi kualitas batang bawah, kondisi kelembapan area pembibitan, sanitasi lingkungan pembibitan, serta kesesuaian penggunaan klon unggul yang akan digunakan dalam kegiatan sambung pucuk (side grafting).
Selain memastikan kesiapan teknis pembibitan, kunjungan ini juga menjadi langkah evaluasi terhadap kesiapan daerah dalam mendukung program rehabilitasi dan peremajaan tanaman kakao rakyat. Sejalan dengan komitmen pemerintah daerah, alokasi bantuan bibit kakao tahun 2026 akan difokuskan pada kegiatan peremajaan tanaman tua, rehabilitasi kebun yang produktivitasnya menurun, serta perluasan areal tanam pada wilayah strategis seperti Kecamatan Pamboang dan Tubo Sendana.
Dalam kesempatan tersebut, tim Kementerian Pertanian juga berdialog langsung dengan kelompok tani kakao di Kecamatan Pamboang. Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas berbagai aspek teknis budidaya kakao, mulai dari pemilihan bibit unggul, pemeliharaan bibit pada fase pembibitan, teknik sambung pucuk, hingga pengelolaan tanaman di lapangan agar mampu menghasilkan produktivitas biji kakao kering yang optimal.
Para petani juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan bahan tanam unggul dan penerapan budidaya sesuai standar GAP untuk meningkatkan produktivitas, mutu hasil, serta ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Penggunaan bibit unggul yang sehat dan tersertifikasi dinilai menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan keberhasilan pengembangan kakao secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama pemerintah daerah berharap pengembangan kakao di Kabupaten Majene dapat terus meningkat dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Selain itu, program ini juga diharapkan mampu mendukung visi hilirisasi perkebunan nasional melalui peningkatan nilai tambah komoditas kakao, penguatan daya saing produk perkebunan, serta pengembangan ekonomi masyarakat berbasis komoditas unggulan daerah.(MN)