Mitigasi Kekeringan, BRMP Sulawesi Barat Perkuat Kesiapsiagaan Pertanian di Mamuju Tengah
MAMUJU TENGAH– Dalam upaya mengantisipasi dampak musim kemarau dan menjaga keberlanjutan produksi pangan, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat, Dr. Sumarni Panikkai bersama tim melaksanakan kegiatan mitigasi kekeringan di Kabupaten Mamuju Tengah.
Kegiatan ini difokuskan pada identifikasi wilayah terdampak kekeringan, inventarisasi kebutuhan sarana pendukung, serta penyusunan langkah percepatan penanganan bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. Hasil identifikasi lapangan menunjukkan sejumlah wilayah di Kabupaten Mamuju Tengah mulai mengalami dampak kekeringan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Di Desa Salumanurung, sekitar 1 ha dengan 1/4 lahan sawah terdampak kekeringan parah. Lokasi tersebut belum memiliki solusi penyediaan air karena sumber air terdekat berada sekitar 1 kilometer dari lahan, sehingga diperlukan dukungan irigasi perpompaan (Irpom) dan irigasi perpipaan (Irpip) untuk mengalirkan air dari Sungai Barakkang atau Sungai Lumu.
Sementara itu, di Desa Pasapa, telah tersedia dua unit pompa bantuan berukuran 6 inci yang sedang dalam proses pengerjaan. Berdasarkan hasil survei, masih terdapat sekitar 50 hektare lahan yang berjarak kurang lebih 1,5 kilometer dari sumber air sehingga membutuhkan tambahan sarana Irpom 6 inci beserta jaringan Irpip agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Kondisi yang lebih luas terjadi di Desa Tobadak, di mana hampir seluruh areal persawahan seluas sekitar 219 hektare terdampak kekeringan. Sebagian petani telah berinisiatif membuat sumur bor, namun debit air embung sebagai sumber air utama masih sangat terbatas.
Oleh karena itu, pembangunan jaringan perpipaan dan penambahan pompa air menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlangsungan pertanaman. Permasalahan distribusi air juga ditemukan di Desa Kuo, di mana aliran air dari Sungai Tommo tidak lagi mengalir ke areal persawahan akibat pintu air yang ditutup. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena memengaruhi pasokan air bagi lahan pertanian di wilayah tersebut.
Selain itu, Kelompok Tani Suka Muju di Desa Palonga'an juga mengusulkan bantuan Irpom setelah sekitar 8 hektare lahan mengalami gagal panen akibat kekeringan. Di sisi lain, tim kerja Kabupaten Mamuju Tengah terus melakukan inventarisasi lahan yang berpotensi mengalami gagal panen sebagai dasar penentuan prioritas penanganan dan usulan bantuan. Dalam kesempatan yang sama, pembahasan juga mencakup percepatan Survey Investigasi dan Desain (SID) di Desa Polopangale, kebutuhan pembangunan Irpip sepanjang kurang lebih 1 kilometer di Desa Barakkang, serta upaya mengarahkan areal Luas Tambah Tanam (LTT) yang akan memasuki masa panen agar dapat terintegrasi dengan Program PM-AAS.
Melalui kegiatan mitigasi ini, BRMP Sulawesi Barat bersama Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah berkomitmen mempercepat penyediaan sarana pendukung irigasi, meningkatkan koordinasi lintas sektor, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya air yang tersedia. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan risiko gagal panen, menjaga produktivitas lahan pertanian, dan memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan musim kemarau.(KDN)