Prof. Muhammad Arsyad Monitoring Kesiapan Penyedia Bibit Kopi dan Kakao di Sulawesi Barat
SULAWESI BARAT – Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Percepatan Peningkatan Produksi Pertanian, Prof. Muhammad Arsyad, Ph.D., melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi kesiapan penyedia bibit kopi dan kakao di Provinsi Sulawesi Barat. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan bibit yang berkualitas dalam mendukung program pengembangan komoditas perkebunan strategis sekaligus percepatan peningkatan produksi pertanian di Sulawesi Barat.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Muhammad Arsyad didampingi oleh Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat, Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Kapoksi Pendampingan Modernisasi Pertanian BRMP Sulawesi Barat, LO Penyuluh Provinsi Sulawesi Barat, penyedia bibit, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta petani setempat.
Lokasi pertama yang dikunjungi berada di Lingkungan Sese, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, yang merupakan lokasi perbenihan kopi dengan kapasitas sekitar 1,5 juta bibit kopi. Dari hasil monitoring, Prof. Muhammad Arsyad memberikan apresiasi kepada penyedia karena mampu memberdayakan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja pada kegiatan perbenihan. Selain memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, pengelolaan lokasi perbenihan juga dinilai sangat baik, bersih, dan tertata rapi.
Pertumbuhan bibit kopi terlihat seragam dan sehat, didukung dengan tersedianya papan informasi pada setiap blok atau bedengan yang memudahkan pengawasan dan identifikasi bibit. Selain itu, akses jalan menuju lokasi yang telah dibangun dengan konstruksi beton semakin menunjang kelancaran operasional kegiatan. Atas kondisi tersebut, Prof. Muhammad Arsyad menilai lokasi perbenihan kopi di Simboro layak menjadi salah satu lokasi percontohan dan direkomendasikan untuk dikunjungi oleh Menteri Pertanian.
Selanjutnya, rombongan melakukan monitoring ke lokasi perbenihan kakao di Lingkungan Mamunda, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene. Berdasarkan hasil pemantauan, lokasi perbenihan berada di kawasan pesisir pantai yang berpotensi terdampak air laut pasang sehingga dapat memengaruhi pertumbuhan sebagian bibit kakao apabila tidak dilakukan langkah-langkah mitigasi yang tepat.
Selain itu, pada lokasi tersebut belum tersedia papan display atau papan informasi yang memuat data teknis penting seperti jumlah bibit yang tersedia, jadwal tanam, jadwal sambung, serta informasi klon entris yang digunakan. Oleh karena itu, Prof. Muhammad Arsyad meminta agar pengelolaan lokasi perbenihan terus dibenahi guna meningkatkan kualitas pelayanan dan memudahkan proses monitoring serta evaluasi kegiatan.
Melalui kegiatan monitoring ini, Kementerian Pertanian berharap seluruh penyedia bibit dapat terus meningkatkan kualitas pengelolaan perbenihan sehingga mampu menghasilkan bibit kopi dan kakao yang bermutu, sehat, dan sesuai standar. Ketersediaan bibit berkualitas menjadi salah satu kunci utama dalam mendukung pengembangan kawasan perkebunan, peningkatan produktivitas tanaman, dan kesejahteraan petani di Sulawesi Barat.(MN)