Tim BRMP Sulbar Monitoring Kesiapan Penyedia Bibit Kakao dan Kopi di Mamuju dan Majene
MAMUJU-Tim Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat bersama penyuluh perkebunan melakukan monitoring kesiapan penyedia bibit kakao dan kopi di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan produksi bibit dalam mendukung program pengembangan kawasan kakao dan kopi yang menjadi salah satu prioritas pembangunan sektor perkebunan di daerah tersebut.
Monitoring dilakukan pada sejumlah penyedia bibit, yakni CV. Mario Mandiri Perkasa, CV. Syahriyandi Ashar Utama, dan CV. Khaerul Azzam, yang ditunjuk untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam program pengembangan kawasan perkebunan kakao dan kopi di Sulawesi Barat.
Berdasarkan data kebutuhan program, Sulawesi Barat memerlukan sebanyak 17.100.000 batang bibit kakao atau setara dengan pengembangan areal seluas 17.100 hektare, serta 1.500.000 batang bibit kopi untuk pengembangan lahan seluas 1.500 hektare. Besarnya kebutuhan tersebut menuntut kesiapan penyedia dalam menghasilkan bibit yang berkualitas dan tersedia tepat waktu.
Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan peninjauan langsung ke lokasi perbenihan kopi yang berada di Lingkungan Sese, Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju. Sementara itu, lokasi perbenihan kakao yang menjadi sasaran monitoring di Kabupaten Mamuju meliputi wilayah Mamuju, Mamunyu, Tadui, Kalukku, Rangas, Bonehau, Sampaga, dan Papalang. Adapun di Kabupaten Majene, monitoring dilakukan di wilayah Malunda, Tubo Sendana, Pamboang, dan Sendana.
Hasil monitoring menunjukkan bahwa secara umum kondisi bibit di seluruh lokasi berada dalam keadaan baik dan terawat. Umur bibit tanaman berkisar antara 4 hingga 5 bulan dengan pertumbuhan yang sehat dan memenuhi standar teknis perbenihan. Untuk bibit kakao, progres penyambungan menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Beberapa lokasi pembibitan telah menyelesaikan sambung pucuk 30 % sementara sebagian lainnya telah mencapai 100 % dan siap untuk disalurkan kepada petani.
Dalam proses penyambungan bibit kakao, penyedia menggunakan klon entres unggul MCC 02 dan Sulawesi 2 (S2). Kedua klon tersebut merupakan varietas yang telah lama dikenal dan banyak digunakan oleh petani kakao di Sulawesi Barat. Selain memiliki tingkat kompatibilitas atau daya sambung yang tinggi dengan batang bawah, klon MCC 02 dan Sulawesi 2 juga mampu menghasilkan buah berukuran besar dengan produktivitas yang tinggi sehingga sangat sesuai untuk mendukung program peremajaan tanaman kakao rakyat.
Tim BRMP menyampaikan bahwa kegiatan monitoring ini dilakukan untuk memastikan kapasitas produksi, mutu bibit, umur tanaman, serta kesiapan waktu penyaluran dari para penyedia. Langkah tersebut penting agar proses distribusi bibit kepada petani dapat berjalan sesuai jadwal tanam yang telah ditetapkan.
Melalui hasil monitoring yang menunjukkan kondisi bibit yang baik dan progres produksi yang terus berjalan, diharapkan kegiatan pengembangan kawasan kakao dan kopi di Sulawesi Barat dapat terlaksana dengan lancar. Ketersediaan bibit unggul yang berkualitas menjadi faktor penting dalam mendukung peningkatan produktivitas perkebunan sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Barat sebagai salah satu sentra produksi kakao dan kopi di Indonesia.(S,MN)