11,7 Ton per Hektare! PM-AAS Jadi Harapan Baru Pertanian Mamuju
MAMUJU-Penerapan teknologi pertanian modern kembali menunjukkan hasil positif di Kabupaten Mamuju. Melalui kegiatan pengubinan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mamuju dan Tim Penyuluh Pertanian Kecamatan Kalukku, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat mencatat hasil ubinan 11,7 ton per hektar pada lahan petani yang menerapkan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Kegiatan yang dilaksanakan Sabtu (7/11/26) tersebut berlangsung di lahan seluas 1 hektare milik Anas, anggota Kelompok Tani Tammassarangge, yang berlokasi di Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju. Anas merupakan salah satu petani yang telah mengadopsi teknologi PM-AAS dengan dukungan teknis serta arahan penerapan teknologi dari BRMP Sulawesi Barat bersama tim penyuluh pertanian setempat.
Proses pengubinan diawali dengan penentuan titik sampel berdasarkan metode statistik. Dari hasil penentuan tersebut, diperoleh tiga titik sampel dengan luas masing-masing 1 meter persegi. Selanjutnya, sampel dipanen, dirontokkan hingga bersih, kemudian ditimbang untuk memperoleh data hasil produksi sebagai dasar penghitungan produktivitas.
Berdasarkan hasil pengukuran dan pengolahan data dari ketiga sampel tersebut, diperoleh angka ubinan 11,7 ton per hektar. Capaian ini menjadi gambaran potensi hasil penerapan PM-AAS di Kecamatan Kalukku sekaligus menjadi rujukan dalam mendorong pengembangan dan perluasan penerapan teknologi tersebut di tingkat petani.
Marwayanti Nas, selaku Ketua Kelompok Substansi (Kapoksi) Penerapan dan Penilaian Kesesuaian BRMP Sulawesi Barat, menyampaikan apresiasi atas hasil yang diperoleh petani. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil dari kesungguhan petani dalam menerapkan teknologi, didukung sinergi dan kerja sama yang baik antara petani, penyuluh pertanian, dan BRMP Sulawesi Barat serta Pemerintah Daerah.
“Alhamdulillah, hasil yang cukup memuaskan. Ini semua berkat petani yang bersungguh-sungguh ingin menerapkan teknologi PM-AAS, serta kerja sama tim penyuluh bersama BRMP Sulawesi Barat. Hasil 11,7 ton per hektar ini semoga menjadi pendorong semangat bagi petani lainnya untuk ikut menerapkan PM-AAS di Kecamatan Kalukku,” ungkap Marwayanti.
Sementara itu, Anas mengungkapkan bahwa penerapan metode PM-AAS tidak sulit dilakukan selama petani aktif menjalin komunikasi dengan penyuluh dan tim BRMP untuk memahami setiap tahapan serta tata cara penerapannya. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan benih bersertifikat sebagai salah satu faktor pendukung untuk memperoleh hasil panen yang lebih optimal.
“Metode ini sebenarnya tidak sulit diterapkan, asalkan kita sering berkomunikasi dengan tim penyuluh dan BRMP untuk mengetahui tahapan serta tata caranya. Yang paling penting juga menggunakan benih bersertifikat agar hasilnya bisa lebih maksimal. Terima kasih atas dukungan Bapak dan Ibu dari tim penyuluh pertanian dan BRMP Sulawesi Barat serta Pemerintah daerah, tutur Anas.
Capaian hasil ubinan ini menunjukkan pentingnya sinergi antara petani, penyuluh pertanian, BRMP Sulawesi Barat, dan BPS dalam mendukung penerapan teknologi pertanian modern serta pengukuran produktivitas secara objektif dan terukur.
BRMP Sulawesi Barat berharap keberhasilan penerapan PM-AAS di lahan Anas dapat menjadi contoh sekaligus motivasi bagi petani lainnya di Kecamatan Kalukku untuk mengadopsi teknologi serupa. Melalui penerapan teknologi yang tepat, penggunaan benih bermutu, serta penguatan sinergi dengan penyuluh dan tenaga teknis, produktivitas pertanian diharapkan terus meningkat dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan petani.(AA/MN)