BRMP Sulawesi Barat Ikuti Rapat Koordinasi Mitigasi Musim Kering Kabupaten Polewali Mandar
POLEWALI MANDAR-Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Sulawesi Barat mengikuti Rapat Koordinasi Mitigasi Musim Kering Kabupaten Polewali Mandar yang dilaksanakan di Ruang Pola Kantor Bupati Polewali Mandar.
Rapat koordinasi tersebut digelar sebagai langkah bersama untuk mengantisipasi dan memitigasi dampak musim kering terhadap sektor pertanian, khususnya terkait ketersediaan sumber air, kondisi jaringan irigasi, kebutuhan sarana pendukung pengairan, serta penanganan wilayah pertanian yang berpotensi maupun telah terdampak kekeringan. Agenda tersebut diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan dihadiri oleh berbagai instansi serta pemangku kepentingan terkait.
Kegiatan dihadiri dan dibuka langsung oleh Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud, S.IP. BBRMP Sulawesi Barat menjadi salah satu instansi yang diundang bersama sejumlah unsur pemerintah daerah, BMKG, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi V Mamuju, BPBD, Dinas PUPR, Dinas Pertanian, penyuluh pertanian, GP3A, serta perwakilan kelompok tani.
Dalam rapat disampaikan bahwa kondisi musim kering mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Polewali Mandar. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau pada April–Oktober 2026, sementara Kabupaten Polewali Mandar mulai terdampak kondisi kemarau yang lebih kering sejak pertengahan Juli 2026. Kondisi tersebut menyebabkan debit air pada sejumlah daerah irigasi menurun dan berpotensi meningkatkan risiko kekurangan air pada lahan persawahan.
Dampak kekeringan saat ini tercatat pada sekitar 1.379 hektare lahan persawahan, dengan tingkat dampak ringan 230,88 hektare, sedang 324,81 hektare, dan berat 760,07 hektare. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Binuang, Matakali, Tapango, dan Mapilli. Sejumlah langkah mitigasi yang disiapkan antara lain optimalisasi sumur bor dalam (JIAT), pompanisasi di beberapa lokasi, serta dukungan sarana pengairan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi V Mamuju menjelaskan perkembangan penanganan sumber air pada daerah irigasi di wilayah Polewali Mandar. Dari daerah irigasi yang menjadi sasaran penanganan, sebagian telah dilakukan upaya penyediaan air melalui pemompaan air dari sungai ke sawah, pemompaan sumur JIAT, serta pemompaan dari saluran sekunder, sementara daerah irigasi lainnya masih dalam tahap penanganan.
Mitigasi musim kering membutuhkan sinergitas dan kolaborasi lintas instansi, baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun unsur terkait lainnya. Masing-masing pihak diharapkan dapat berperan sesuai tugas dan kewenangannya untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian serta meminimalkan dampak kekeringan terhadap produksi pertanian.
BBRMP Sulawesi Barat sebagai salah satu institusi yang terlibat dalam upaya mitigasi turut mendukung penguatan langkah-langkah penanganan di sektor pertanian. Kolaborasi tersebut menjadi penting mengingat upaya mitigasi tidak hanya bergantung pada pembangunan dan optimalisasi infrastruktur pengairan, tetapi juga membutuhkan pengelolaan air di tingkat lapangan secara efektif dan efisien.
Peran aktif penyuluh pertanian dan kelompok tani juga menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kering. Penyuluh diharapkan dapat mendampingi petani dalam mengatur pemanfaatan sumber air, menyesuaikan kegiatan budidaya dengan kondisi ketersediaan air, serta mendorong pemanfaatan sumber daya air secara efektif dan efisien.
Melalui koordinasi dan sinergi lintas sektor tersebut, diharapkan langkah mitigasi musim kering di Kabupaten Polewali Mandar dapat berjalan secara terpadu, sehingga risiko penurunan produktivitas dan dampak kekeringan terhadap lahan pertanian dapat ditekan serta keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga.(MSH)