Hasil Ubinan Capai 11,7 Ton per Hektare, PM-AAS Tunjukkan Potensi Peningkatan Produksi di Kalukku
MAMUJU— Penerapan teknologi pertanian modern kembali menunjukkan hasil positif di Kabupaten Mamuju. Melalui kegiatan pengubinan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mamuju dan Tim Penyuluh Pertanian Kecamatan Kalukku, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat mencatat hasil ubinan mencapai 11,7 ton per hektare pada lahan petani yang menerapkan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (7/11) tersebut berlangsung di lahan seluas 1 hektare milik Anas, anggota Kelompok Tani Tammassarangge, di Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju. Anas merupakan salah satu petani yang telah menerapkan teknologi PM-AAS dengan pendampingan BRMP Sulawesi Barat dan penyuluh pertanian setempat.
Proses pengubinan diawali dengan penentuan titik sampel berdasarkan metode statistik. Dari hasil penentuan tersebut, diperoleh tiga titik sampel dengan luas masing-masing 1 meter persegi. Sampel kemudian dipanen, dirontokkan hingga bersih, dan ditimbang untuk memperoleh data hasil produksi.
Berdasarkan hasil pengukuran dan pengolahan data dari ketiga sampel tersebut, diperoleh angka ubinan yang setara dengan produktivitas 11,7 ton per hektare. Capaian ini menjadi gambaran potensi hasil penerapan PM-AAS di Kecamatan Kalukku sekaligus bahan evaluasi untuk mendorong pengembangan teknologi tersebut di tingkat petani.
Marwayanti Nas, selaku Ketua Kelompok Substansi (Kapoksi) Penerapan dan Penilaian Kesesuaian BRMP Sulawesi Barat, menyampaikan apresiasi atas hasil yang diperoleh petani. Ia menilai capaian tersebut merupakan hasil dari kesungguhan petani dalam menerapkan teknologi serta dukungan pendampingan dan kerja sama berbagai pihak.
“Alhamdulillah, hasil yang cukup memuaskan. Ini semua berkat petani yang bersungguh-sungguh ingin menerapkan teknologi PM-AAS, serta kerja sama tim penyuluh bersama BRMP Sulawesi Barat. Hasil 11,7 ton per hektare ini semoga menjadi pendorong semangat bagi petani lainnya untuk ikut menerapkan PM-AAS di Kecamatan Kalukku,” ungkap Marwayanti.
Sementara itu, Anas mengungkapkan bahwa penerapan metode PM-AAS tidak sulit dilakukan selama petani aktif berkomunikasi dengan penyuluh dan tim BRMP untuk memahami setiap tahapan serta tata cara penerapannya. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan benih bersertifikat sebagai salah satu faktor pendukung untuk memperoleh hasil panen yang lebih maksimal.
“Metode ini sebenarnya tidak sulit diterapkan, asalkan kita sering berkomunikasi dengan tim penyuluh dan BRMP untuk mengetahui tahapan serta tata caranya. Yang paling penting juga menggunakan benih bersertifikat agar hasilnya bisa lebih maksimal. Terima kasih atas dukungan Bapak dan Ibu dari tim penyuluh pertanian dan BRMP Sulawesi Barat,” tutur Anas.
Capaian ubinan ini menjadi salah satu bukti pentingnya kolaborasi antara petani, penyuluh pertanian, BRMP Sulawesi Barat, dan BPS dalam mendukung penerapan teknologi serta pengukuran hasil produksi secara terukur. BRMP Sulawesi Barat berharap keberhasilan penerapan PM-AAS di lahan Anas dapat menjadi contoh dan mendorong semakin banyak petani di Kecamatan Kalukku untuk mengadopsi teknologi tersebut. Dengan penerapan yang tepat dan pendampingan berkelanjutan, produktivitas pertanian diharapkan meningkat dan berdampak pada kesejahteraan petani.(AA)