Monitoring LTT Mamuju, Kekeringan dan Irigasi Jadi Kendala
MAMUJU-Kegiatan monitoring Luas Tambah Tanam (LTT) dilaksanakan pada Kelompok Tani Kereta Kencana, Desa Beru-beru, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Jumat (28/8). Kegiatan ini memantau capaian target luas areal tanam secara faktual di lapangan guna memastikan efektivitas program percepatan produksi pangan sekaligus mendorong peningkatan luas tambah tanam padi di tingkat petani.
Monitoring dilaksanakan bersama tim dari Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, serta didampingi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, BWS Wilayah V Mamuju, dan petani pemilik lahan. Berdasarkan hasil pemantauan, luas tanam yang dilakukan pada hari ini mencapai 3,35 hektare.
Dalam pelaksanaan monitoring, masih ditemukan sejumlah kendala yang menyebabkan sebagian petani belum dapat melakukan penanaman. Kondisi kekeringan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesiapan lahan dan ketersediaan air untuk pertanaman. Selain itu, jaringan irigasi yang masih dalam proses perbaikan juga menyebabkan sebagian lahan belum dapat memperoleh dukungan pengairan secara optimal.
Berdasarkan informasi di lapangan, pekerjaan jaringan irigasi tersebut direncanakan selesai pada bulan Oktober 2026. Kondisi ini berdampak pada masih adanya lahan yang belum ditanami, dengan luas lebih dari 100 hektare dari luas LBS Desa Beru-beru yang masih menunggu dukungan ketersediaan air sebelum dapat dilakukan penanaman.
Kegiatan monitoring LTT ini menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, pengelola sumber daya air, dan petani dalam mendukung percepatan tanam. Dengan selesainya pembangunan/perbaikan jaringan irigasi dan membaiknya ketersediaan air, diharapkan lahan yang saat ini belum tertanami dapat segera dimanfaatkan sehingga mendukung peningkatan luas tanam dan produksi pangan di Kabupaten Mamuju dan Sulawesi Barat secara umum.
Melalui monitoring LTT secara langsung di lapangan, diharapkan data pertanaman yang diperoleh semakin akurat serta dapat menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut dalam mengatasi kendala pertanaman, khususnya terkait ketersediaan air dan kesiapan lahan.(NT)