Perkuat Hilirisasi Perkebunan, Polman Dorong Pengembangan Kawasan dan Peremajaan Kakao
POLEWALI MANDAR-Upaya memperkuat sektor perkebunan sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar. Salah satunya melalui sosialisasi kegiatan pengembangan kawasan kakao dalam rangka mendukung Program Percepatan Hilirisasi Perkebunan yang dilaksanakan oleh Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Polewali Mandar.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Bupati Polewali Mandar dan dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II), Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Polewali Mandar, para camat, penyuluh pertanian, serta petani calon penerima bantuan pengembangan kakao.
Dalam kegiatan tersebut, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Barat turut hadir sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani dalam mendukung pengembangan komoditas perkebunan, khususnya kakao. Selain itu kehadiran BRMP juga sebagai bagian dari penguatan koordinasi dalam pelaksanaan program bantuan pemerintah, sejalan dengan tugas yang saat ini diemban dalam mendukung proses bantuan pemerintah ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sesuai dengan kebutuhan di lapangan, tepat sasaran, serta mendukung pencapaian target pengembangan komoditas perkebunan. Karena itu, koordinasi antara Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Barat, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani menjadi bagian penting dalam memastikan program dapat berjalan secara efektif.
Kabupaten Polewali Mandar memperoleh alokasi dukungan pengembangan kakao meliputi perluasan areal kakao seluas 250 hektare dan peremajaan kakao seluas 5.000 hektare. Dukungan tersebut menjadi peluang penting untuk meningkatkan kembali produktivitas dan daya saing kakao, terutama melalui perbaikan tanaman yang sudah tua atau kurang produktif serta pengembangan areal baru yang memiliki potensi untuk budidaya kakao.
Program peremajaan tidak hanya dipandang sebagai upaya mengganti tanaman kakao yang sudah tidak produktif, tetapi juga menjadi momentum untuk mendorong penerapan teknologi budidaya yang lebih baik. Sementara itu, perluasan kawasan diarahkan untuk memperkuat basis produksi kakao sehingga ketersediaan bahan baku dapat lebih terjamin dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Percepatan hilirisasi menjadi bagian penting dari arah pengembangan tersebut. Kakao tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi perlu didorong menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi melalui pengolahan, peningkatan mutu, penguatan kelembagaan petani, hingga terbukanya akses pasar.
Karena itu, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya bantuan yang diberikan, tetapi juga oleh bagaimana bantuan tersebut dikelola dan dimanfaatkan secara tepat oleh petani. Peran penyuluh, pemerintah daerah, serta pendampingan dari berbagai pihak menjadi penting untuk memastikan proses peremajaan dan perluasan berjalan sesuai dengan standar teknis dan memberikan hasil yang nyata.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, petani penerima bantuan mendapatkan pemahaman mengenai arah dan pelaksanaan program, sekaligus diharapkan dapat membangun komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan kawasan kakao yang dikembangkan.
Sinergi tersebut menjadi langkah strategis untuk mengembalikan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan Polewali Mandar. Dengan tanaman yang lebih produktif, penerapan teknologi budidaya yang semakin baik, serta dukungan terhadap proses hilirisasi, pengembangan kakao diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat perekonomian daerah.
Peremajaan 5.000 hektare dan perluasan 250 hektare bukan sekadar angka luasan, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kembali produktivitas kakao dan menciptakan rantai nilai perkebunan yang lebih kuat dari kebun hingga produk hilir.(NK)