PM-AAS Mengudara di RRI Mamuju, Perkuat Swasembada Pangan Berkelanjutan
MAMUJU– Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat terus memperkuat diseminasi kebijakan dan inovasi pertanian melalui Dialog Interaktif RRI Mamuju dengan mengangkat tema "Pertanian Modern (PM-ASS) untuk Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan". Dialog yang menghadirkan Kepala BRMP Sulawesi Barat, Dr. Sumarni Panikkai, sebagai narasumber utama ini bertujuan memberikan informasi awal kepada masyarakat, khususnya para pelaku usaha tani, mengenai Program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-ASS) yang menjadi salah satu program strategis Kementerian Pertanian dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.
Melalui dialog tersebut, BRMP Sulawesi Barat berupaya memperluas diseminasi informasi agar masyarakat, khususnya petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani, penyuluh pertanian, serta pemerintah daerah memiliki pemahaman yang sama mengenai arah kebijakan modernisasi pertanian. Sosialisasi sejak dini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung implementasi PM-ASS yang akan dilaksanakan pada Musim Tanam (MT) II.
Dalam pemaparannya, Dr. Sumarni Panikkai menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian menargetkan implementasi Program PM-ASS pada Musim Tanam II seluas 1 juta hektare yang akan dilaksanakan di 37 provinsi di Indonesia. Program ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi modern, memperkuat efisiensi usaha tani, serta mempercepat tercapainya swasembada pangan yang berkelanjutan. Untuk Provinsi Sulawesi Barat sendiri, pemerintah menetapkan target pengembangan PM-ASS seluas 6.053 hektare.
Menurutnya, PM-ASS bukan sekadar program mekanisasi pertanian, tetapi merupakan transformasi sistem budidaya yang mengintegrasikan teknologi modern, mekanisasi, digitalisasi, serta pengelolaan usaha tani berbasis kawasan. Melalui pendekatan tersebut, seluruh proses budidaya dilakukan secara lebih terencana, efisien, dan terintegrasi sehingga mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Penerapan teknologi dalam PM-ASS mencakup penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara terpadu pada setiap tahapan budidaya. Mulai dari pengolahan lahan menggunakan traktor modern, penanaman dengan rice transplanter maupun metode direct seeding, pemupukan berimbang menggunakan peralatan mekanis, penyemprotan tanaman memanfaatkan drone pertanian, hingga proses panen menggunakan combine harvester. Selain itu, PM-ASS juga didukung dengan penerapan teknologi informasi, pemanfaatan data pertanian, serta penerapan rekomendasi budidaya spesifik lokasi sehingga proses pengambilan keputusan di tingkat lapangan menjadi lebih tepat dan efektif.
Lebih lanjut, Dr. Sumarni Panikkai menjelaskan bahwa perbedaan mendasar PM-ASS dibandingkan pola budidaya sebelumnya terletak pada sistem pengelolaan yang dilakukan secara terintegrasi dalam satu kawasan. Apabila sebelumnya sebagian besar kegiatan pertanian masih dilakukan secara manual dan dikelola masing-masing petani secara terpisah, melalui PM-ASS seluruh tahapan budidaya dilaksanakan secara lebih terkoordinasi dengan dukungan teknologi dan mekanisasi modern. Pendekatan ini tidak hanya mempercepat proses budidaya, tetapi juga menghasilkan kualitas pekerjaan yang lebih seragam serta meningkatkan efisiensi usaha tani.
Implementasi PM-ASS diharapkan mampu memberikan berbagai manfaat nyata bagi petani, antara lain meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja, mempercepat waktu olah tanah hingga panen, mengurangi biaya produksi, mengoptimalkan penggunaan benih, pupuk, dan pestisida, serta menekan kehilangan hasil (losses) saat panen. Dengan pengelolaan yang lebih modern, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP), produktivitas lahan, kualitas hasil panen, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sumarni Panikkai menegaskan bahwa keberhasilan implementasi PM-ASS tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi dan alsintan, tetapi juga pada kualitas pendampingan di lapangan. Oleh karena itu, penyuluh pertanian memiliki peran yang sangat strategis sebagai ujung tombak pembangunan pertanian. Penyuluh akan mengawal setiap tahapan pelaksanaan program, mulai dari sosialisasi kebijakan, pendampingan teknis budidaya, penguatan kelembagaan petani, hingga monitoring dan evaluasi pelaksanaan PM-ASS di lapangan. Dengan pendampingan yang optimal, diharapkan proses adopsi teknologi oleh petani dapat berlangsung lebih cepat dan tepat sasaran.
"PM-ASS merupakan transformasi menuju pertanian yang lebih maju, modern, efisien, dan berdaya saing. Melalui penerapan teknologi serta pengawalan yang kuat dari penyuluh pertanian, kami optimistis program ini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan," ujar Dr. Sumarni Panikkai.
Melalui Dialog Interaktif RRI Mamuju, BRMP Sulawesi Barat berharap informasi mengenai PM-ASS dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas sehingga terbangun pemahaman dan komitmen bersama dalam mendukung transformasi sektor pertanian. Sinergi antara Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, akademisi, serta para pelaku usaha tani diharapkan menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan implementasi PM-ASS sebagai langkah nyata menuju pertanian modern dan swasembada pangan berkelanjutan di Sulawesi Barat maupun Indonesia.(MN)