BMKG Buka Data, BRMP Sulbar Matangkan Strategi Kejar Target LTT
Mamuju, 12 Oktober 2026 Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Barat menerima audiensi sekaligus sosialisasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Tampa Padang terkait prakiraan iklim dan musim hujan 2026/2027. Audiensi diterima langsung oleh Kepala BRMP Sulawesi Barat, Dr. Sumarni Panikkai, dan dihadiri oleh Penanggung Jawab (PJ) Swasembada Pangan kabupaten se-Sulawesi Barat serta jajaran BRMP Sulawesi Barat.
Dr. Sumarni Panikkai mengapresiasi BMKG atas pelaksanaan diseminasi informasi prakiraan curah hujan yang dinilai sangat membantu perencanaan dan pengawalan program strategis Kementerian Pertanian di Sulawesi Barat, khususnya percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi. Informasi iklim tersebut menjadi salah satu dasar untuk menentukan strategi tanam, menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi wilayah, serta mengantisipasi potensi kekeringan maupun curah hujan tinggi.
Sementara itu, Devi Ardiansyah menyampaikan kesiapan BMKG untuk terus bersinergi dengan BRMP Sulawesi Barat, terutama melalui penyediaan dan penyampaian informasi prakiraan iklim secara berkelanjutan. BMKG juga menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti rencana kerja sama melalui nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) bersama BRMP guna memperkuat koordinasi dan pemanfaatan informasi iklim dalam mendukung pembangunan pertanian.
Dalam pemaparannya, BMKG menyampaikan prediksi curah hujan Oktober hingga Desember 2026 serta prakiraan awal musim hujan 2026/2027 di Sulawesi Barat. Informasi tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi BRMP Sulawesi Barat dan PJ Swasembada Pangan kabupaten dalam menyusun strategi tanam sesuai kondisi iklim, kesiapan lahan, dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.
Pada Oktober 2026, curah hujan di Sulawesi Barat diprakirakan didominasi kategori rendah, dengan sebagian wilayah Kabupaten Mamasa, Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah. Kondisi ini menuntut perencanaan tanam yang cermat, terutama pada lahan tadah hujan. Pengawalan LTT perlu diarahkan pada lahan yang siap tanam dan memiliki sumber air memadai, didukung optimalisasi jaringan irigasi serta pemanfaatan sumber air alternatif.
Memasuki November 2026, curah hujan diprakirakan didominasi kategori menengah. Kondisi ini menjadi peluang untuk meningkatkan realisasi LTT secara bertahap pada wilayah yang telah memasuki musim hujan dan memiliki kesiapan lahan. Namun, pelaksanaan tanam tetap perlu menyesuaikan kondisi aktual, terutama di wilayah Kabupaten Majene bagian selatan dan Polewali Mandar bagian barat daya yang diprakirakan masih mengalami curah hujan kategori rendah.
Sementara itu, pada Desember 2026, curah hujan diprakirakan didominasi kategori tinggi, dengan kategori menengah di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui pengaturan jadwal tanam, pemeliharaan saluran drainase, serta pengelolaan air untuk mengurangi risiko genangan. Peningkatan curah hujan juga perlu dimanfaatkan untuk mendukung pertanaman berikutnya dengan tetap mempertimbangkan kondisi lahan dan potensi cuaca ekstrem.
Perbedaan prakiraan curah hujan tersebut menjadi dasar penting dalam menyusun strategi percepatan LTT hingga akhir tahun. Pada Oktober, pengawalan diarahkan pada optimalisasi lahan dengan dukungan ketersediaan air. Pada November, percepatan tanam dapat ditingkatkan pada wilayah yang kondisi lahannya telah siap. Selanjutnya, pada Desember, pengawalan difokuskan pada optimalisasi peluang tanam dengan memperhatikan pengelolaan air dan antisipasi dampak curah hujan tinggi.
BRMP Sulawesi Barat akan memperkuat koordinasi dengan PJ Swasembada Pangan kabupaten dan penyuluh pertanian untuk menerjemahkan informasi prakiraan iklim menjadi rencana operasional di lapangan. Upaya tersebut meliputi pemutakhiran data kesiapan lahan, penentuan lokasi prioritas tanam, pemantauan realisasi LTT, serta identifikasi kendala air dan irigasi.
Rencana tindak lanjut kerja sama antara BRMP Sulawesi Barat dan BMKG diharapkan memperkuat pertukaran informasi iklim dan koordinasi teknis secara berkelanjutan. Dengan dukungan informasi yang tepat dan perencanaan tanam yang adaptif, sinergi kedua instansi diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengawalan program strategis Kementerian Pertanian, menjaga kesinambungan produksi padi, serta mendukung pencapaian swasembada pangan yang berkelanjutan di Sulawesi Barat.
Catatan: Prediksi curah hujan merupakan informasi prakiraan, bukan kondisi aktual. Penetapan jadwal tanam tetap perlu mempertimbangkan pembaruan informasi BMKG, ketersediaan air, kondisi lahan, dan hasil pemantauan di setiap kabupaten.